Kata Pembuka

Welcome to InAFilmS.org sebagai komunitas film Indonesia di Amerika yang berbasiskan Los Angeles. Apabila anda  seorang insan pekerja film, mahasiswa film atau semata penggemar film yang ingin ikut serta mengangkat nama film nasional, dan anda bermukim di AS, maka anda diundang untuk bergabung menjadi anggota. Silahkan daftarkan diri melalui forum login di website ini. Sekretariat kami akan menghubungi anda untuk hal-hal menyangkut keanggotaan anda.

Who's Online

Saat ini ada 12 tamu online
Diskusi Panel Film di Los Angeles, Memperkuat Komunitas Film Indonesia Cetak E-mail
Ditulis Oleh Pen KJRI Los Angeles   

 

 

Pada tanggal 26 April 2008 lalu, sebuah kegiatan diskusi panel tentang perfilman Indonesia telah diselenggarakan di KJRI Los Angeles, yang dihadiri oleh masyarakat perfilman Indonesia dan AS, termasuk para pecinta film pada umumnya.

 

Acara yang mengambil tema "Learning from Hollywood: Prospect for Foreign Films", dimaksudkan sebagai medium untuk mempertemukan dan membangun jaringan perfilman Indonesia di AS, khususnya Los Angeles. Diskusi panel itu sendiri telah menggali berbagai aspek perfilman Indonesia, dengan mengambil perbandingan dari Hollywood sebagai pusat perfilman AS dan dunia.

 

Hadir sebagai panelis dalam diskusi yang dimoderatori Agusti Anwar (Konsul Pensosdik KJRI Los geles) adalah Prof. Fatimah Tobing Rony (UC Irvine); Dahlia Setiyawan (kandidat doktor UCLA); Digvijay Singh (Kundalini Pictures), Carlos DeMenezes (Red Umbrella Pictures) dan Wahyu Gusti (Inafilms/Red and White Production). Di antara peserta, hadir pula Jon Turteltaub, produser film "National Treasure" yang dibintangi Nicholas Cage, beberapa filmmakers Hollywood lainnya, di samping Ketua Dewan Kesenian Jakarta Marco Kusumawijaya.

 

Diskusi panel telah dibuka oleh Konsul Jenderal RI Subijaksono Sujono yang menggarisbawahi momentum perfilman Indonesia yang saat ini sedang meningkat. Konjen RI menilai hal ini merupakan peluang yang baik untuk mendorong kerjasama perfilman dan pengembangan industri perfilman nasional. Beliau secara khusus menyinggung bagaimana antusiasme masyarakat Indonesia terhadap film "Ayat-ayat Cinta" (Verses of Love) belakangan ini, yang bahkan ditonton oleh Presiden RI.

 

Konjen RI mengatakan bahwa Indonesia mempunya potensi kerjasama perfilman internasional, bukan saja karena populasinya yang besar (235 juta), tetapi juga karena alam Indonesia yang indah, budaya yang kaya dan keramahtamahan bangsa yang potensil bagi kepentingan lokasi shooting film berkelas internasional. Beliau juga menyatakan kesiapan KJRI Los Angeles untuk membantu para filmmakers Hollywood yang ingin menggali daya tarik Indonesia bagi produksi film layar lebar mereka. 

 

Diskusi yang berkembang cukup produktif, yang memunculkan beberapa pemikiran tentang situasi dan kondisi perfilman Indonesia. Fatimah, misalnya, menilai Indonesia dibanjiri oleh film-film asing sedangkan industri film lokal masih lemah. Untuk mendorong pengembangan perfilman ini diperlukan suatu sistem distribusi, sedangkan penayangan tidak didominasi oleh satu sinema saja. Fatimah menyarankan agar Indonesia meniru Korea dengan mengadakan semacam "film fund", guna mendorong produktivitas perfilman. Ia juga menyinggung kenyataan masih jarangnya studi perfilman di Indonesia, yang hanya ada di bawah Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

 

Para pembahas yang lain menggarisbawahi potensi Indonesia dalam hal lokasi dan kekayaan budaya, pasar penonton film yang besar, universalitas film, termasuk perlunya keberanian untuk menggali hal-hal baru dan kebebasan pembuat film untuk mengambil gambar di manapun.

 

 Jon Turteltaub sebagai produser penting Hollywood, di samping menilai penting kemajuan teknologi dalam industri film, juga mendorong pembuat film Indonesia untuk lebih berani menggali potensi lokal. Poin mengenai perlunya keberanian, bukan hanya sekedar meniru (copycat) apa yang telah ada, mendapat dukungan peserta diskusi berbasis Hollywood lainnya.

 

Ketua Dewan Kesenian Jakarta Marco Kusumawijaya dalam sumbang sarannya menyampaikan tentang situasi undang-undang perfilman nasional yang masih terus dalam proses; hal-hal menyangkut lembaga sensor film, masalah komite film dan lainnya. 

 

Secara keseluruhan diskusi panel film tersebut berjalan lancar dan interaktif. Para peserta melihat proses belajar dari pengalaman Hollywood penting nilainya; bukan saja dari hal-hal yang dilakukan, tetapi juga yang tidak dilakukan Hollywood.

 

Pertemuan itu juga telah mempererat hubungan jaringan antara komunitas perfilman Indonesia di Los Angeles  (Inafilms) dan kalangan perfilman Hollywood.

 

(Pen)

 

Source:  KJRI Los Angeles   (http://kjri-la.net/content/view/63/2)
Views: 1870 | Cetak

  Komentar (1)
RSS comments
1. Learn the greatness!
Ditulis oleh Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya , pd 14-06-2008 02:42
industri film amerika yang kini telah berkembang begitu hebatnya bisa menjadi inspirasi untuk mengembangkan industri film lokal. Turtletaub menekankan keberanian untuk mengolah kekayaan yang dimiliki indonesia untuk memajukan dunia perfilman, beliau menekankan orisinalitas. 
 
Hmmm...kalau dari sudut pandang saya, dasar pembuatan film berkualitas sekalipun, kita masih harus banyak belajar, mencontoh itu fine2saja, asal dengan sopan santun dan tujuan yang jelas, BELAJAR! Sinematografi yahud, cerita yang bervariasi, hingga kualitas pemain kelas dunia, itu semua butuh pembelajaran. Sampai akhirnya, someday,industri perfilman kita bisa catching up dengan industri perfilman USA. 
 
Ayo....gairahkan pembuatan film-film lokal berkualitas dunia.....

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:

Kode:* Code

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 19 May 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

 

 

Polls

Bagaimana Penilaian Anda terhadap film "Laskar Pelangi"?