Kata Pembuka

Welcome to InAFilmS.org sebagai komunitas film Indonesia di Amerika yang berbasiskan Los Angeles. Apabila anda  seorang insan pekerja film, mahasiswa film atau semata penggemar film yang ingin ikut serta mengangkat nama film nasional, dan anda bermukim di AS, maka anda diundang untuk bergabung menjadi anggota. Silahkan daftarkan diri melalui forum login di website ini. Sekretariat kami akan menghubungi anda untuk hal-hal menyangkut keanggotaan anda.

Who's Online

Saat ini ada 4 tamu online

Syndicate

Movie Trailer: "Laskar Pelangi"

Film dan Persilatan Cetak E-mail
Ditulis Oleh Agusti Anwar   

Seberapa kental rasa suka anda terhadap dunia persilatan? Baiklah, bukan soal ilmu bela diri per se, tetapi soal pengisahannya, hikayatnya, komiknya, filmnya dan sebagainya?

Saya termasuk penggemar berat. Kalau anda baru saja menonton film animasi Kungfu Panda (2008) yang baru saja dirilis di bioskop, tentu suasananya akan semakin terasa. Bukan soal animasinya, atau fakta bahwa film ini dibuat oleh Dreamworks bukan Golden Harvest berbasis Hongkong; oleh sutradara Barat, berbintangkan Joe Black sebagai sang panda gemuk, Po, dan seterusnya. Sebagai film dengan rating PG, ini animasi lucu yang manis saja, termasuk penampilan sang guru (shifu) oleh Dustin Hoffman yang dibuat mirip Obi Wan Kanobi-nya Star Wars. Tetapi, bagaimana pun ini memang film silat, lengkap dengan pakem persilatan yang sangat khas Daratan Cina.

 

Apapun format penyuguhannya, termasuk film animasi, hikayat dunia persilatan bagi saya sangat mengesankan. Ketika dulu kecil dan belum masuk sekolah, ketertarikan saya untuk bisa membaca teks komik-komik persilatan yang penuh gambar menarik itu telah memotivasi untuk cepat-cepat pandai membaca. Hanya di kwartal pertama di kelas satu, saya sudah langsung lancar membaca. Berkat komik persilatan.

Selain komik, tentu semua tahu tentang deretan panjang cerita silat buah karya Khoo Ping Ho. Berpuluh-puluh jilid cerita silat berbentuk stensilan itu dilahap habis penggemar dunia persilatan dari tanah Tiongkok. Tak usahlah disebutkan lagi nama-namanya atau jurus-jurusnya. Yang pasti semua penuh kehebatan; lengkap dengan jurus-jurus mumpuni dengan ilmu meringankan tubuh (ginkang) yang tinggi.

Memang bagi saya, setiap kali disebutkan tentang dunia persilatan, ada sebuah imagi otak yang selalu berulang. Kata orang yang mendalami psikologi, kenangan imagi pertama yang muncul dalam benak kita setiap kali dirujukkan sesuatu hal adalah gambaran yang paling mewakili dasar ingatan kita.

Bagi saya, setiap kali dunia persilatan itu disinggung, kelebatan ingatan yang tampil sebagai bentuk asosiasi dari konteks itu bukanlah dari Legend of the Condor Heroes, perguruan Shaolin atau lainnya. Herannya, yang selalu muncul di benak saya adalah seorang pendekar pedang yang berjalan menuju sebuah rumah kecil tepat di sisi kaki ngarai yang bersemak hijau rimbun, dengan pohon-pohon besar di belakangnya. Udara saat itu terasa sejuk, seperti saat setelah turunnya sedikit hujan yang melembabkan.

Saya tidak tahu bagaimana dengan anda, tetapi bagi saya itulah bentuk asosiatif yang selalu hadir. Seingat saya, setting cerita komik itu menampilkan seorang pendekar bernama Mahesa. Judulnya pun telah lupa, tetapi suasananya terasa lengket sekali. Apakah itu karya Djair, Jan Mintaraga, Ganes TH atau siapa, tak lagi saya ingat persis. Namun ia menjadi kenangan batin yang melekat, terbawa ke mana-mana.

Dunia persilatan ini memang merupakan pembeda antara sejarah perhikayatan dunia kepahlawanan di Barat dan Timur. Meskipun sama-sama diwarnai benang merah pertarungan antara baik dan buruk yang selalu memunculkan pahlawan penegak keadilan, tetapi tema besar (dasar) ini diwujudkan dengan metode yang berbeda.

Ketika di Barat, kehebatan selalu dibasiskan pada senjata keras, baju besi, kuda dan akhirnya senjata api, tembak-menembak para koboi, di dunia Timur, kisah masa lalu lebih berbasiskan upaya memantapkan diri pada filosofi batin, melalui tapa meditasi, latihan gerak tubuh dan jurus-jurus. Para pendekar mempelajari ilmu kebal, bukan dengan memasang pelapis baja, tetapi ketahanan dari dalam.

Dalam seribu satu legenda yang diceritakan, para pendekar itu pun dikisahkan memiliki ilmu tenaga dalam yang mumpuni, bahkan dengan kemampuan meringankan tubuh sedemikian rupa sehingga seperti bisa melayang dan terbang. Itulah sebabnya mengapa dalam hikayat para pendekar kita, kedalaman sebuah ilmu justru akan semakin mengambil bentuk yang halus (subtil) dan tidak mencolok.

Seorang pendekar pedang mumpuni yang turun gunung, di mata saya, bukanlah sebuah figur sombong yang menggotong pedang besar ke mana-mana. Akan tetapi adalah seorang jelata yang bahkan pedangnya pun demikian tersamar seperti tidak penting. Sebab, semakin mumpuni seorang pendekar pedang semakin tidak penting bentuk fisik pedang itu. Seperti seorang ahli sufi, pendekar pedang sejati tentu sudah mencapai tingkat kedalaman yang tinggi, sehingga dapat menggunakan apa saja sebagai pedang, sepotong ranting sekali pun.

Demikianlah dunia persilatan itu; sebuah dunia yang mengagumkan. Lalu sekarang ini, ketika hikayatnya disuguhkan dengan sofistifikasi teknik perfilman yang canggih, dunia persilatan yang kita saksikan menjadi semakin menarik. Selain komik yang lebih tradisional, film-film layar lebar telah mampu menampilkan dunia para pendekar ini dengan pesona yang sangat menawan, lengkap dengan segala macam jurus dan ilmu yang bahkan melampaui batas harapan si penggubah cerita yang asli.

Dengan sutradara sekaliber Tsui Hark, Zhang Yimou dan beberapa lainnya, misalnya [bahkan yang berbasis Korea], dunia persilatan tampil sangat ajaib dan menawan. Di antaranya, yang paling artistik di mata saya adalah Hero-nya Jet Li, dari buah tangan sutradara Zhang Yimou.
Menonton film-film persilatan itu, bagi saya seakan dibawa pulang kepada kenangan lama, tentang seorang pendekar pedang di sebuah rumah kecil di kaki ngarai hijau yang sejuk, dengan pohon-pohon besar di belakangnya.

Yang pasti, kombinasi dunia persilatan dan perfilman telah mengangkat RRC ke tingkat dunia melaui legenda para pendekar kungfu. Kita tentu sangat berharap kiranya akan sampai juga kemampuan Indonesia mengangkat karya-karya Jan Mintaraga dan lainnya ke layar lebar dengan kualitas internasional yang setara, sebagai bentuk promosi karya anak bangsa.

LA, 9/10 Juni 2008

Sumber: Kolom-kolom Agusti Anwar


Views: 1698 | Cetak

  Be first to comment this article
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:

Kode:* Code

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 30 June 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

 

 

Polls

Bagaimana Penilaian Anda terhadap film "Laskar Pelangi"?